Pengembangan Pariwisata Seimbang dengan “Coopetition”
Negara Indonesia memiliki wilayah yang cukup luas bahkan yang terluas di asia tenggara. Wilayah yang membentang dari Sabang sampai Merauke ternyata menyimpan sumber daya yang luar biasa melimpah juga beraneka ragam. Keindahan alamnya, keanekaragaman budaya serta kekayaan peninggalan sejarah yang dimiliki merupakan sebuah modal yang sangat besar untuk pembangunan dan pengembangan perekonomian Negara kita khususnya melalui sektor parwisata.
Namun kenyataannya kepariwsataan di Indonesia hanya menjadi senjata yang ampuh bagi sebagian kecil wilayah di Indonesia. Sebut saja Bali, siapa yang tidak kenal dengan nama tempat yang satu ini. Pariwisata telah menjadi urat nadi bagi jantung perekonomian masyarakat daerah tersebut. Keindahan alam dan keunikan budaya masayarakat Bali yang juga didukung dengan pembangunan infrastruktur yang memadai menjadikan tempat ini sebagai tempat favorit untuk berlibur tidak hanya bagi masyarakat Indonesia, bahkan data UNWTO menyebutkan bahwa bali merupakan daerah tujuan favorit bagi sebagian besar wisatawan dunia khususnya yang berasal dari negara-negara Eropa dan Amerika.
Dalam artikel tersebut menggambarkan bahwa kawasan ujung paling timur negeri ini, Kabupaten Merauke, mengesankan berpemerintahan progressif, dari sudut pengembangan angkutan udara. Dan beruntung dipadu dengan pola pro aktif manajemen yang dilancarkan Merpati Nusantara. Kabupaten itu sudah membeli dua pesawat Boeing 737-300, dan sejak dua tahun yll menyerahkan armada tersebut dioperasikan secara komersial oleh Merpati. Ternyata, tanggal 15 September 2009 ini ditambah lagi satu pesawat yang baru dibeli dan akan tiba di bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Bukan main!
Konsep membeli dan memiliki armada pesawat itulah yang “progressif”. Dan, telah terjamin setiap hari ada penerbangan dari Merauke ke berbagai kota tujuan dengan pesawat jet. Dan hasil pengoperasian itu memberikan sumber baru PAD – Pendapatan Asli Daerah. Joko Sulistiono, dari divisi Customer Service Merpati di kantor pusatnya, membincangkan pengalaman Merpati dengan lancar.
Kita bisa membayangkan, ujung paling timur di perbatasan negeri Indonesia, jika hanya bergantung pada kemampuan sendiri dari maskapai penerbangan nasional, mungkin memerlukan beberapa tahun lagi untuk dijamah secara komersial. Padahal dimaklumi, di satu sisi kondisi geografi di bagian tengah dan timur negeri kepulauan ini memerlukan transportasi udara yang massif untuk kegiatan pemerintahan dan masyarakat. Di sisi lain, transportasi udara bisa berfungsi “penggerak percepatan kegiatan ekonomi sosial”. Pada gilirannya tentu menggerakkan kegiatan pariwisata.
Dengan konsep Merpati melancarkan upaya-upaya KSO – Kerja Sama Operasi, selain di Merauke, juga berinisiatif menawarkan investasi pada Kabupaten Bima. Cerita dari Joko Sulistiono begini. Adalah terdapat pesawat Merpati dalam keadaan grounded karena membutuhkan perbaikan. Dan kabupaten Bima di bagian timur NTB – Nusa Tenggara Barat, memerlukan peningkatan layanan penerbangan demi memacu kegiatan ekonomi. Merpati lalu mengkaji, mengenai potensi jumlah penumpang, harga yang bisa dijangkau, potensi tujuan rute, hingga akhirnya pihak Bupati Bima bisa menerima proposal kerjasama yang kemudian diajukan oleh Merpati.
Lalu, Pemda Bima melakukan investasi memperbaiki pesawat tersebut, dan dioperasikan. Maka sejak dua tahun lalu, layanan penerbangan ke dan dari Bima terlaksana dengan menggunakan pesawat jet. Dan Pemda memperoleh tambahan sumber PAD.
Solusi yang saling menguntungkan bagi masing-masing daerah dalam mengembangkan potensinya bukan? Menurut anda bagaimana?







