Pengembangan Pariwisata Seimbang dengan “Coopetition”

Dibuat oleh Wientor Rahmada, Senin, 08/03/2010 14:24

Negara Indonesia memiliki wilayah yang cukup luas bahkan yang terluas di asia tenggara. Wilayah yang membentang dari Sabang sampai Merauke ternyata menyimpan sumber daya yang luar biasa melimpah juga beraneka ragam. Keindahan alamnya, keanekaragaman budaya serta kekayaan peninggalan sejarah yang dimiliki merupakan sebuah modal yang sangat besar untuk pembangunan dan pengembangan perekonomian Negara kita khususnya melalui sektor parwisata.

Namun kenyataannya kepariwsataan di Indonesia hanya menjadi senjata yang ampuh bagi sebagian kecil wilayah di Indonesia. Sebut saja Bali, siapa yang tidak kenal dengan nama tempat yang satu ini. Pariwisata telah menjadi urat nadi bagi jantung perekonomian masyarakat daerah tersebut. Keindahan alam dan keunikan budaya masayarakat Bali yang juga didukung dengan pembangunan infrastruktur yang memadai menjadikan tempat ini sebagai tempat favorit untuk berlibur tidak hanya bagi masyarakat Indonesia, bahkan data UNWTO menyebutkan bahwa bali merupakan daerah tujuan favorit bagi sebagian besar wisatawan dunia khususnya yang berasal dari negara-negara Eropa dan Amerika.

Ya, daerah ini menjadi kiblat pembangunan kepariwisataan di Indonesia. Sebagai daerah yang fenomenal daerah ini menjadi penyumbang jumlah kunjungan wisatawan asing terbesar bagi pengembangan kepariwisataan di Indonesia. Data BPS 2009 menunjukan bahwa daerah ini mampu mendatangkan 2,8 juta wisatawan asing ke-Indonesia atau sebesar kurang lebih 43% dari total kedatangan wisatawan asing ke Indonesia.
 
Tapi mari kita lupakan dulu kehebatan dan keistimewaan daerah Bali di mata dunia. Faktanya Indonesia memiliki 33 provinsi dengan keragaman kondisi bentang alam dan keunikan budayanya masing-masing. Namun kenapa hanya satu nama saja yang diperhitungkan oleh mata dunia? Fakta yang menarik lagi walaupun kurang mengenakan, kebanyakan orang asing lebih mengenal bali ketimbang Indonesia sendiri. Bagaimana anda menjawab pertanyaan ini: “Indonesia berada di sebelah mananya Bali?”
 
Dalam milenium baru ini kita masih dihadapkan pada masalah klasik, yaitu “pembangunan yang belum merata”. Masalah yang masih diupayakan dengan keras untuk dituntaskan oleh pemerintah kita selama kurang lebih setengah abad terakhir ini semenjak Indonesia merdeka.
 
Tahun 2010 yang digadang-gadang sebagai tahun perubahan masih menyimpan harapan yang sama yakni terwujudnya pembangunan yang merata.
 
Kini masing-masing daerah di indonesia mulai berlomba-lomba untuk mengembangkan potensi pariwisata yang dimiliki oleh daerahnya. Sebut saja Manado yang berambisi untuk menjadi kota pariwisata di tahun ini, lalu kota bandung yang berupaya untuk memantapkan dirinya sebagai pelopor pariwisata kreatif di Indonesia, dan masih banyak lagi daerah lain yang mencanangkan pengembangan di sektor pariwisata untuk mendukung pembangunan ekonomi daerahnya masing-masing.
 
Hermawan Kertadjaya yang menjadi guru besar marketing di asia bahkan di dunia pernah mengatakan bahwa dalam era arus baru (new wave era) teknologi sekarang ini, kondisi persaingan dalam dunia usaha semakin sulit dikarenakan oleh para pesaing semakin sulit untuk ditemukenali. Ekstrimnya mereka ‘invisible’ dan perubahan semakin tidak dapat diprediksi. Oleh karena itu pengembangan usaha dalam hal ini adalah pariwisata memerlukan suatu aktivitas pemasaran yang dinamakan co-opetition.
 
Dijelaskan lagi oleh Hermawan Kertadjaya bahwa co-opetition adalah suatu istilah baru untuk menggambarkan upaya kompetisi yang juga bersifat kolaboratif. Upaya berkolaborasi dengan perusahaan lain yang juga berperan atau berpotensi sebagai kompetitor perusahaan kita untuk meminimalisir pengorbanan finansial dalam jumlah yang lebih besar yang dibutuhkan untuk membiayai pengembangan perusahaannya  (dalam hali ini pariwisata daerah)masing-masing.
 
Saya sendiri pada prinsipnya sependapat dengan pernyataan tersebut. Karena pandangan pribadi saya, indonesia memiliki potensi pariwisata yang begitu besar. Dibutuhkan pengorbanan (finansial khususnya) yang cukup besar pula untuk mengelolanya. Sehingga dengan adanya upaya bersama sedikitnya akan membantu perkembangan daerah-daerah yang saling ber co-opetition. Dilain pihak upaya ini juga tetap menjaga kondisi persaingan sehingga dapat memacu masing-masing daerah untuk berusaha lebih baik dan unggul.
 
Sebagai contoh dari co-opetition bisa kita lihat dari kutipan artikel yang saya ambil dari TTIspot dengan judul ‘Contoh dari Merauke dan Merpati’.

Dalam artikel tersebut menggambarkan bahwa kawasan ujung paling timur negeri ini, Kabupaten Merauke, mengesankan berpemerintahan progressif, dari sudut pengembangan angkutan udara. Dan beruntung dipadu dengan pola pro aktif manajemen yang dilancarkan Merpati Nusantara. Kabupaten itu sudah membeli dua pesawat Boeing 737-300, dan sejak dua tahun yll menyerahkan armada tersebut dioperasikan secara komersial oleh Merpati. Ternyata, tanggal 15 September 2009 ini ditambah lagi satu pesawat yang baru dibeli dan akan tiba di bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Bukan main!

Konsep membeli dan memiliki armada pesawat itulah yang “progressif”. Dan, telah terjamin setiap hari ada penerbangan dari Merauke ke berbagai kota tujuan dengan pesawat jet. Dan hasil pengoperasian itu memberikan sumber baru PAD – Pendapatan Asli Daerah. Joko Sulistiono, dari divisi Customer Service Merpati di kantor pusatnya, membincangkan pengalaman Merpati dengan lancar.

Kita bisa membayangkan, ujung paling timur di perbatasan negeri Indonesia, jika hanya bergantung pada kemampuan sendiri dari maskapai penerbangan nasional, mungkin memerlukan beberapa tahun lagi untuk dijamah secara komersial. Padahal dimaklumi, di satu sisi kondisi geografi di bagian tengah dan timur negeri kepulauan ini memerlukan transportasi udara yang massif untuk kegiatan pemerintahan dan masyarakat. Di sisi lain, transportasi udara bisa berfungsi “penggerak percepatan kegiatan ekonomi sosial”. Pada gilirannya tentu menggerakkan kegiatan pariwisata.

Dengan konsep Merpati melancarkan upaya-upaya KSO – Kerja Sama Operasi, selain di Merauke, juga berinisiatif menawarkan investasi pada Kabupaten Bima. Cerita dari Joko Sulistiono begini. Adalah terdapat pesawat Merpati dalam keadaan grounded karena membutuhkan perbaikan. Dan kabupaten Bima di bagian timur NTB – Nusa Tenggara Barat, memerlukan peningkatan layanan penerbangan demi memacu kegiatan ekonomi. Merpati lalu mengkaji, mengenai potensi jumlah penumpang, harga yang bisa dijangkau, potensi tujuan rute, hingga akhirnya pihak Bupati Bima bisa menerima proposal kerjasama yang kemudian diajukan oleh Merpati.

Lalu, Pemda Bima melakukan investasi memperbaiki pesawat tersebut, dan dioperasikan. Maka sejak dua tahun lalu, layanan penerbangan ke dan dari Bima terlaksana dengan menggunakan pesawat jet. Dan Pemda memperoleh tambahan sumber PAD.

Solusi yang saling menguntungkan bagi masing-masing daerah dalam mengembangkan potensinya bukan? Menurut anda bagaimana?

 

Kembali |
1 Komentar:
Edwin
Rabu, 07/04/2010 03:26
Selamat malam Bapak-bapak di Costra.. Menarik banget tulisannya Pak Wientor,saya jadi kepingin komen Pak. Karena saya percaya potensi pariwisata indonesia adalah salah satu yang paling baik didunia In my humble opinion, “coopetition“merupakan suatu jalan keluar yang sangat baik sekaligus menantang buat industri pariwisata indonesia yg kita sama-sama tau menyimpan potensi yang kalau di maksimalkan bukan tidak mungkin akan menjadi katalis ekonomi indonesia. Menantang,karena pertama-tama,luas wilayah dan topografi indonesia yang luas dan beragam adalah salah satu kekuatan dan kelemahan negara kita. Kekuatan, jelas dengan wilayah yang begitu luas dan beragam,semakin banyak juga potensi yang bisa digali. Kelemahan, karena harus diakui akan sulit untuk mengorganisasi daerah-daerah yg secara jarak, fisik, struktur dan infrastruktur berada jauh dr pusat. Kedua, apakah pemda dan pemkot dari masing2 wilayah menyadari sebagaimana Bima dan Merauke menyadari dan bergerak kearah yg sama menuju coopetition tsb. Belum lagi dengan pemerintah pusat, yang sepertinya kurang mempunyai drive ke dalam,lebih sibuk untuk promosi keluar(please correct me if i am wrong). Yang menjadi pertanyaan saya adalah,apakah ada sejenis lembaga yang secara langsung mensingkronisasi daerah2 yg berpotensi besar,agar terjadi kesinambunagan antara rencana jangka panjang Departmen Pariwisata Republik Indonesia dgn yang di daerah-daerah tsb. Maju terus pariwisata Indonesia!
Kirim Komentar